Berita  

Sosialisasi Program Bangga Kencana Bersama DPR RI di Bekasi Tekankan Perkuat Kualitas Keluarga dan Pencegahan Stunting

BEKASI,JURNALDETIK.COM — Sosialisasi Program Bangga Kencana bersama mitra kerja digelar di Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi, Senin (10/11). Kegiatan ini dihadiri  M.Iqbal Tenaga Ahli Anggota Komisi IX DPR RI Sukur H. Nababan, perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN), pemerintah daerah, serta ratusan peserta.

Acara dimulai pukul 12.00 WIB dengan registrasi peserta, dilanjutkan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars KB, pembacaan doa, serta sambutan tuan rumah. Setelah itu, rangkaian materi disampaikan oleh para narasumber dari pusat hingga daerah.

Deputi Bidang Bina Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Kemendukbangga, Dr. Drs. Wahidin, M.Kes, memaparkan bahwa penduduk Indonesia kini mencapai sekitar 286 juta jiwa, dengan Jawa Barat sekitar 50 juta jiwa dan Kota Bekasi sekitar 2,8 juta jiwa.

Menurutnya, tanpa program keluarga berencana, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan bisa menyentuh 500 juta jiwa. Karena itu, program pengendalian jumlah anak—idealnya dua hingga tiga—ditekankan demi meningkatkan kualitas hidup keluarga.

“Jika pendapatan terbatas dan jumlah anak banyak, maka kualitas keluarga dapat menurun. Karena itu perencanaan sangat penting. Namun bila anak sudah terlanjur banyak, tidak masalah, yang penting pastikan sehat, sekolah tinggi, dan memiliki masa depan yang baik,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya usia ideal menikah, yakni 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Selain itu, calon suami dianjurkan berhenti merokok setidaknya tiga bulan sebelum menikah untuk mencegah risiko stunting.

Wahidin juga mengenalkan aplikasi Elsimil, sistem yang membantu calon pengantin memantau kesehatan sebelum menikah. Ia menambahkan bahwa ibu hamil setidaknya harus melakukan pemeriksaan enam kali dan mendapatkan nutrisi cukup, serta dianjurkan mengikuti program KB setelah melahirkan untuk menghindari jarak kehamilan terlalu dekat.

M.Iqbal Tenaga Ahli Anggota Komisi IX DPR RI, Sukur H. Nababan, menyampaikan apresiasi kepada Kemendukbangga dan seluruh peserta. Ia menegaskan bahwa Program Bangga Kencana merupakan bagian dari prioritas nasional untuk memastikan keluarga Indonesia tumbuh lebih berkualitas.

“Di Hari Pahlawan ini, kita juga adalah pahlawan bagi keluarga masing-masing. Para orang tua yang bekerja keras untuk memberikan kehidupan yang layak adalah pahlawan keluarga sejati,” kata M.Iqbal. Ia berharap program ini dapat diteruskan kepada masyarakat luas agar semakin banyak keluarga yang memahami pentingnya perencanaan.

Handayani, S.Sos, Kepala UPT Pelatihan Kependudukan dan KB Bogor, menjelaskan bahwa BKKBN kini telah bertransformasi menjadi Kemendukbangga dengan fokus lebih luas pada kesejahteraan keluarga melalui program BKB, BKR, dan BKL.

Ia menyoroti meningkatnya fenomena fatherless—minimnya kehadiran peran ayah dalam pengasuhan anak. “Padahal figur ayah sangat penting bagi perkembangan emosional dan cara berpikir anak,” tegasnya.

Handayani juga memaparkan empat program Quick Win Kemendukbangga:

Tamasya: fasilitas penitipan anak dengan pengasuh bersertifikasi

Gati: penguatan peran ayah dalam pengasuhan

Genting: dukungan untuk menurunkan angka stunting, termasuk bantuan nutrisi dan akses air bersih

Sidaya: peningkatan kualitas hidup lansia agar tetap sehat, aman, dan berdaya

Materi selanjutnya disampaikan Imron Rosadi, SE, Penyuluh KB DPPKB Kota Bekasi. Ia menegaskan bahwa Quick Win Kemendukbangga menjadi strategi penting dalam mempercepat capaian pembangunan keluarga.

Ia menjelaskan bahwa Genting merupakan gerakan gotong royong masyarakat sebagai orang tua asuh untuk keluarga berisiko stunting. Faktor risiko seperti 4 Terlalu, sanitasi buruk, dan akses air bersih masih banyak ditemukan di lapangan.

Program Tamasya menjadi solusi bagi orang tua bekerja karena menyediakan daycare dengan pengasuh tersertifikasi. Sementara itu,Gati diperluas hingga menyasar remaja untuk mencegah fenomena fatherless.

Terakhir, Sidaya mendorong keluarga agar memberikan pengasuhan lebih baik bagi lansia, sehingga para lansia tetap memiliki peran, dihargai, dan produktif.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab, pembagian merchandise melalui kuis, dan foto bersama seluruh peserta dan narasumber. Para peserta mengapresiasi kegiatan ini karena memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai pentingnya perencanaan keluarga dan pencegahan stunting sebagai bagian dari pembangunan kualitas hidup masyarakat.(Kar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *