Berita  

Sedekah Bumi Desa Bajang, Wujud Syukur dan Gotong Royong yang Terus Terjaga

NGANJUK,JURNALDETIK.COM– Suasana penuh kebersamaan dan semangat gotong royong mewarnai pelaksanaan tradisi Sedekah Bumi atau Nyadran di Desa Bajang, Kecamatan Ngluyu, Kabupaten Nganjuk, Jumat (24/7/2026). Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini kembali digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen sekaligus doa bersama agar masyarakat senantiasa diberikan keberkahan, keselamatan, dan hasil pertanian yang melimpah.

Ratusan warga dari berbagai dusun turut ambil bagian dalam rangkaian prosesi adat yang sarat dengan nilai budaya dan kearifan lokal. Seluruh pelaksanaan kegiatan dilakukan secara swadaya oleh masyarakat, mulai dari pembiayaan hingga persiapan acara, sebagai wujud kuatnya budaya gotong royong yang masih terjaga.

Oplus_16908288

Salah seorang warga, Hari Kusyanto, S.H., mengatakan bahwa tradisi Nyadran menjadi momentum penting untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga sekaligus menjaga warisan budaya leluhur.

“Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan dengan semangat kebersamaan. Mulai dari biaya hingga pelaksanaan semuanya dilakukan oleh warga secara gotong royong,” ujarnya.

Rangkaian Nyadran dimulai sejak Kamis (23/7) sore dengan doa bersama di makam leluhur Mbah Ndarah. Setelah itu dilaksanakan prosesi nazar dari warga yang hajatnya telah terkabul atau telah sembuh dari sakit. Ritual tersebut dipimpin oleh juru kunci dan diiringi alunan gamelan Jawa di halaman rumah Kepala Desa Bajang.

Puncak kegiatan berlangsung pada Jumat pagi dengan prosesi menuju makam Mbah Dampu Awang yang berada di kawasan Gunung Perahu. Sosok Mbah Dampu Awang diyakini masyarakat sebagai cikal bakal berdirinya Desa Bajang.

Dalam prosesi tersebut, ratusan warga berjalan kaki menembus kawasan hutan sambil membawa tumpeng lengkap dengan ayam panggang sebagai simbol rasa syukur. Perjalanan menuju makam menjadi bagian dari tradisi yang terus dipertahankan dari generasi ke generasi.

Prosesi ziarah juga diikuti Kepala Desa Bajang beserta perangkat desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, para tandak, dan kelompok yogono yang turut mengiringi jalannya ritual adat.

Sesampainya di makam, seluruh ayam panggang yang dibawa warga dikumpulkan dan dibagikan secara merata kepada seluruh peserta sebagai simbol kebersamaan dan rezeki yang dinikmati bersama. Sementara itu, juru kunci memimpin ritual adat yang berlangsung khidmat, diiringi lantunan tembang Jawa yang dibawakan oleh waranggono.

Tradisi Nyadran Desa Bajang tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada para leluhur, tetapi juga menjadi sarana memperkuat nilai kebersamaan, gotong royong, serta melestarikan budaya lokal yang hingga kini tetap hidup di tengah masyarakat. Dengan tetap mempertahankan tradisi ini, warga berharap nilai-nilai luhur warisan nenek moyang dapat terus diwariskan kepada generasi penerus.(Kar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *