Berita  

Bakar Ban dan Almamater Warnai Aksi Mahasiswa UINSA, Desak Rektor Definitif dan Tolak Penunjukan Plt

SURABAYA,JURNALDETIK.COM– Aksi unjuk rasa mewarnai halaman depan Kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Rabu (15/7/2026). Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) bersama sejumlah elemen civitas akademika menggelar demonstrasi dengan membakar ban bekas dan almamater sebagai bentuk protes terhadap proses transisi kepemimpinan di kampus.

Aksi diawali dengan long march dari kawasan Jatim Expo–Frontage Jalan Ahmad Yani menuju gerbang utama Kampus UIN Sunan Ampel Surabaya di Jalan Ahmad Yani No.117. Setibanya di lokasi, massa menyampaikan orasi secara bergantian sambil membawa spanduk dan poster berisi tuntutan kepada pimpinan kampus dan Kementerian Agama.

Dalam petisi yang disampaikan kepada pihak kampus, mahasiswa berharap pergantian kepemimpinan UINSA menjadi momentum pembaruan tata kelola perguruan tinggi yang lebih transparan, demokratis, profesional, serta mampu menjunjung tinggi kebebasan akademik dan menciptakan lingkungan kampus yang lebih humanis.

Wakil Ketua DEMA UIN Sunan Ampel Surabaya, Fadlurrakhman Fazle Purwardana, mengatakan aksi tersebut membawa sejumlah tuntutan yang dinilai penting untuk menjaga independensi dan marwah perguruan tinggi.

Menurutnya, mahasiswa menuntut transparansi dalam proses pemilihan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, meminta pencabutan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 4 Tahun 2024 yang dinilai bertentangan dengan PMA Nomor 17 Tahun 2021, serta menolak segala bentuk intervensi politik dalam proses pemilihan rektor.

Selain itu, mahasiswa mendesak pimpinan UINSA memberikan penjelasan secara terbuka terkait keterbukaan informasi publik melalui PPID, meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Ombudsman Republik Indonesia melakukan audit menyeluruh terhadap tata kelola kampus, serta mendesak Komisi VIII DPR RI memanggil Menteri Agama dan pimpinan UINSA untuk memberikan penjelasan mengenai proses pemilihan rektor.

“Kami ingin proses pemilihan rektor benar-benar transparan, akuntabel, dan bebas dari intervensi politik. Kampus harus menjadi ruang akademik yang independen dan berpihak kepada kepentingan civitas akademika,” ujar Fadlurrakhman usai aksi.

Ia juga mengungkapkan keberatan mahasiswa terhadap penunjukan Prof. Akhmad Muzakki sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Rektor UINSA. Menurutnya, keputusan tersebut diduga tidak sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 17 Tahun 2021 tentang Perubahan atas PMA Nomor 68 Tahun 2015 mengenai Pengangkatan dan Pemberhentian Rektor atau Ketua Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri.

Korlap aksi, Ale Fadlurrahman, menambahkan bahwa Pasal 29 dalam regulasi tersebut mengatur Menteri Agama dapat menunjuk pejabat pengganti sementara atau pelaksana tugas apabila rektor mengalami berhalangan tetap.

Ia menjelaskan, dalam aturan tersebut kondisi berhalangan tetap meliputi empat keadaan, yakni rektor meninggal dunia, sakit sehingga tidak dapat menjalankan tugas, berstatus tersangka dalam perkara hukum, atau mengundurkan diri.

“Kenapa harus ditunjuk Plt, padahal tidak memenuhi empat unsur tersebut?” tegas Ale dalam orasinya.

Mahasiswa juga mengaku telah mengirimkan permohonan informasi kepada Kementerian Agama dan berencana menempuh jalur hukum guna memperoleh kejelasan mengenai proses penunjukan Plt Rektor.

Di tengah aksi, massa sempat ditemui Plt Wakil Rektor III UIN Sunan Ampel Surabaya Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Prof. Dr. Abdul Muhid, M.Si. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan bahwa Rektor UINSA sedang berada di Jakarta sehingga tidak dapat menemui langsung para demonstran.

Abdul Muhid mengatakan dirinya tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan ataupun menjawab seluruh tuntutan yang disampaikan mahasiswa. Namun, ia berjanji akan meneruskan seluruh aspirasi kepada pimpinan universitas.

Pernyataan tersebut tidak memuaskan para demonstran. Karena merasa tidak memperoleh jawaban yang memberikan kepastian, massa aksi kemudian meminta Wakil Rektor III meninggalkan lokasi demonstrasi dan menegaskan akan terus mengawal proses pemilihan rektor hingga tuntutan mereka mendapat tanggapan dari pihak yang berwenang.

Sementara itu, seorang perwakilan dosen yang meminta identitasnya disamarkan dengan inisial AWD menyampaikan bahwa sebagian besar civitas akademika, mulai dari dosen, tenaga kependidikan hingga mahasiswa, menginginkan UINSA segera memiliki rektor definitif.

Menurut AWD, proses penjaringan calon rektor telah melalui tahapan seleksi yang panjang hingga menghasilkan tiga nama kandidat. Karena itu, ia menilai penunjukan Plt yang berasal dari unsur petahana berpotensi menimbulkan persepsi bahwa yang bersangkutan memperoleh keuntungan dalam proses transisi kepemimpinan.

Ia juga berpendapat bahwa kampus membutuhkan sosok pemimpin baru yang mampu merangkul seluruh elemen civitas akademika dan membangun tata kelola yang lebih terbuka serta partisipatif.

Aksi demonstrasi berlangsung di bawah pengamanan aparat kepolisian dan berjalan relatif kondusif hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai. Para mahasiswa menegaskan akan terus mengawal proses pemilihan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya serta menunggu tanggapan resmi dari pihak universitas maupun Kementerian Agama terkait berbagai tuntutan yang telah mereka sampaikan.(Kar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *