MOJOKERTO,JURNALDETIK.COM – Suasana religius terasa di Makam Umum Dusun Banjarsari, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Minggu (6/9/2026). Ratusan warga berkumpul mengikuti Majelis Khotmil Qur’an ke-27 yang dirangkai dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi rutinitas keagamaan, tetapi juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk memperkuat silaturahmi sekaligus melakukan refleksi tentang kehidupan dan bekal menuju akhirat.
Sejumlah tokoh yang hadir memberikan tausiyah dengan pesan yang saling melengkapi. Mulai dari pentingnya istiqamah dalam beribadah, menjaga salat, hingga meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Penanggung jawab kegiatan, Advokat Hadi Purwanto, S.T., S.H., M.H., mengingatkan jamaah agar tidak menilai ibadah hanya dari besar kecilnya amalan, tetapi juga dari konsistensinya.
“Konsisten itu yang utama. Amalan yang kecil jika dilakukan berkesinambungan jauh lebih utama dibanding yang besar tapi hanya sekali,” ujarnya.
Menurut Hadi, Majelis Khotmil Qur’an dapat menjadi sarana untuk membentuk pribadi yang lebih sabar, ikhlas, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ia juga mengajak jamaah menjadikan momentum khatam Al-Qur’an sebagai bentuk penghormatan dan bakti kepada keluarga maupun para pendahulu yang telah meninggal dunia.
“Setiap kali kita menuntaskan bacaan Al-Qur’an, alangkah baiknya jika pahalanya kita tujukan untuk ayah, ibu, kakek, nenek, dan para pendahulu kita. Itu wujud cinta kita yang pahalanya akan terus mengalir,” tuturnya.
Sementara dalam momentum Maulid Nabi, Hadi berpesan agar peringatan kelahiran Rasulullah SAW tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata.
“Memperingati kelahiran Nabi adalah ajakan bagi kita untuk meneladani budi pekerti beliau. Bagaimana kasih sayangnya kepada umat, bagaimana kejujurannya. Itu yang patut kita praktikkan,” katanya.
Pesan tentang pentingnya menjaga ibadah juga disampaikan Ustaz Mukid, selaku penasihat acara. Dalam tausiyahnya, ia menceritakan kisah seorang guru yang berada di penghujung usia dan dikelilingi para santrinya.
Menurut kisah tersebut, sang guru menangis ketika menghadapi sakaratul maut. Ketika ditanya penyebabnya, ia mengaku khawatir hari itu menjadi hari terakhir dirinya tidak dapat menunaikan salat.
“Para murid menangis. Gurunya pun turut menitikkan air mata. Saat ditanya sebabnya, beliau menjawab: ‘Aku menangis karena bisa jadi ini hari terakhir aku tidak menunaikan salat’,” tutur Ustaz Mukid.
Kisah tersebut, lanjutnya, menjadi pengingat bahwa manusia terkadang mampu menghabiskan banyak waktu untuk mengejar urusan dunia, namun justru mencari alasan ketika harus melaksanakan ibadah.
Ia kemudian menekankan posisi salat sebagai ibadah yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim.
“Guru itu baru merasakan lezatnya salat dalam 5 tahun terakhir hidupnya,” lanjutnya.
Ustaz Mukid mengingatkan bahwa salat merupakan salah satu amal yang memiliki kedudukan utama dalam kehidupan akhirat.
“Bila salat kita berantakan, maka amal kebaikan lain berpotensi ikut tertolak. Perintah salat ini istimewa, karena perintahnya langsung disampaikan saat Isra Mi’raj, ketika Nabi Muhammad SAW menghadap Allah di Sidratul Muntaha,” jelasnya.
Nasihat berikutnya disampaikan K.H. Hasan Mathori, selaku penasihat jemaah. Ia mengawali tausiyah dengan mengajak jamaah mensyukuri kesempatan dapat berkumpul dalam majelis keagamaan.
“Yang duduk di tempat ini adalah orang-orang pilihan. Hanya yang tulus dan dikehendaki Allah yang akan terus hadir di majelis seperti ini,” ujarnya.
Kiai Hasan juga mengingatkan besarnya tanggung jawab umat Islam dalam meneladani Rasulullah Muhammad SAW.
“Kita semua memiliki budi kepada Nabi Muhammad SAW. Allah menciptakan alam semesta terlebih dahulu baru kemudian manusia. Jika kita meneladani Nabi, maka perilaku kita akan mencerminkan Al-Qur’an. Karena hal pertama yang beliau ajarkan adalah budi pekerti,” paparnya.
Dalam tausiyahnya, Kiai Hasan turut mengingatkan jamaah mengenai berbagai tantangan kehidupan di akhir zaman. Ia menyebut keberadaan ulama sebagai salah satu penerang bagi umat agar tetap berada di jalan yang benar.
“Di akhir zaman nanti, tabiat manusia akan menyerupai hewan ternak. Alhamdulillah kita belum sampai ke sana. Saat ini masih ada para ulama yang menjadi lentera,” katanya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk terus menghadiri majelis ilmu dan menjaga ketaatan kepada Allah SWT.
“Bermajelis dengan orang saleh itu menenangkan. Sehebat apapun kesibukan kita, jangan sampai meninggalkan perintah Allah. Jika kita taat, Allah akan cukupkan semua kebutuhan. Syaratnya hanya satu: yakin dan jangan banyak mengeluh,” pungkasnya.
Kegiatan Khotmil Qur’an ke-27 dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut ditutup dengan doa bersama. Para tokoh dan jamaah berharap majelis rutin tersebut terus berlangsung dan menjadi sarana mempererat persaudaraan sekaligus membawa keberkahan bagi masyarakat Dusun Banjarsari, Desa Kedunglengkong, dan sekitarnya.(Kar)














