MOJOKERTO,JURNALDETIK.COM – Anggota DPRD Kota Mojokerto, Moeljadi, S.H., mengajak generasi muda untuk berani mengambil peran dalam kehidupan sosial, organisasi, hingga kepemimpinan politik. Pesan tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Seminar Kepemudaan Milad ke-62 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang digelar di Aula Gedung IKM Batik, Kota Mojokerto dengan mengusung tema “Peran Pemuda dalam Pembangunan Desa, dari Partisipasi Sosial Menuju Kepemimpinan Politik yang Berintegritas”. Sabtu (13/6/2026)
Dalam paparannya, Moeljadi menekankan pentingnya semangat pantang menyerah dan keberanian menghadapi tantangan sejak usia muda. Ia mencontohkan perjalanan hidup Theodore Roosevelt Jr., mantan Presiden Amerika Serikat yang semasa kecil dikenal memiliki kondisi fisik lemah dan sering menderita asma.
Meski memiliki keterbatasan, Roosevelt tidak menyerah. Ia terus melatih dirinya melalui berbagai aktivitas, mulai dari olahraga tinju hingga mendaki gunung. Kegigihan tersebut membentuk karakter kuat yang kemudian mengantarkannya menjadi tokoh berpengaruh hingga dipercaya memimpin negaranya.
“Usia muda adalah masa untuk belajar, berjuang, dan membangun pengaruh positif. Banyak tokoh besar yang memulai perjalanan kepemimpinannya sejak usia yang sangat muda,” ujar Moeljadi.
Ia juga mengingatkan bahwa saat ini pemerintah telah menyediakan berbagai fasilitas dan ruang bagi pengembangan potensi generasi muda. Namun, menurutnya, seluruh fasilitas tersebut tidak akan berarti jika tidak disambut dengan kemauan untuk terlibat dan berkontribusi.
Menurut Moeljadi, salah satu tantangan yang dihadapi pemuda saat ini adalah kurangnya rasa percaya diri dan keberanian untuk tampil di ruang publik. Padahal, sikap tersebut menjadi modal utama dalam membangun kepedulian sosial.
“Ketika seseorang tidak percaya diri, maka akan muncul ketidakpedulian. Jika tidak peduli, dia tidak akan terlibat. Kalau tidak terlibat, dia tidak akan belajar. Jika tidak belajar, dia tidak akan memahami, dan akhirnya tidak akan mampu memperbaiki keadaan,” tegasnya.
Ia menilai banyak pemuda memiliki cita-cita besar, namun enggan memulai dari hal-hal sederhana di lingkungan sekitar. Bahkan, untuk menjadi pengurus kegiatan masyarakat atau panitia peringatan kemerdekaan, masih banyak yang enggan mengambil tanggung jawab.
“Jangan bermimpi menjadi kepala desa atau pemimpin besar kalau menjadi panitia kegiatan lingkungan saja tidak mau. Kepemimpinan itu lahir dari proses dan pengalaman,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Moeljadi juga mengulas perjalanan sejarah bangsa Indonesia yang menunjukkan betapa besar peran pemuda dalam menentukan arah perubahan bangsa.
Ia menyebut momentum Kebangkitan Nasional 1908 sebagai masa lahirnya kesadaran kolektif pemuda, kemudian Sumpah Pemuda 1928 yang memperkuat persatuan bangsa. Selanjutnya, pada Peristiwa Rengasdengklok 1945, para pemuda mendorong Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
“Pemuda selalu hadir dalam setiap panggilan sejarah bangsa. Tahun 1908 membangun kesadaran, tahun 1928 membangun persatuan, tahun 1945 mendorong kemerdekaan, tahun 1966 melakukan koreksi terhadap kekuasaan, dan tahun 1998 melahirkan reformasi. Pertanyaannya, peran apa yang akan dimainkan pemuda hari ini?” ujarnya.
Sebagai contoh nyata kepemimpinan yang lahir dari kepedulian, Moeljadi menceritakan sosok pemuda asal Kauman, Kota Mojokerto, bernama Rizky atau yang akrab disapa Darkek. Meski hanya lulusan SMP dan bekerja sebagai koordinator parkir di Alun-Alun Kota Mojokerto, Rizky dinilai memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat.
Awalnya, Moeljadi mendorong Rizky untuk maju menjadi Ketua RT di lingkungannya. Setelah terpilih, hasil kepemimpinannya justru mendapat apresiasi luas dari warga.
“Setelah dua bulan menjabat, saya datang dan bertanya kepada warga. Ternyata mereka sangat puas. Rizky selalu membantu warga tanpa pamrih, mulai mengurus administrasi kependudukan, BPJS, hingga mengantar warga yang sakit ke rumah sakit,” tuturnya.
Menurut Moeljadi, kisah tersebut membuktikan bahwa kepemimpinan tidak selalu ditentukan oleh latar belakang pendidikan atau status sosial, melainkan oleh kepedulian, keberanian, dan kemauan untuk melayani masyarakat.
“Rizky yang sering dipandang sebelah mata justru mampu menunjukkan kepemimpinan yang baik karena memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Ini menjadi pelajaran bahwa siapa pun bisa menjadi pemimpin jika memiliki kemauan untuk berbuat dan melayani,” pungkasnya.
Seminar kepemudaan tersebut menjadi momentum refleksi bagi para peserta untuk meneguhkan kembali peran generasi muda sebagai agen perubahan yang mampu membawa kemajuan bagi masyarakat, daerah, dan bangsa.(Kar)

















