oleh
Machradji Machfud *)
Kekayaan Majapahit tentulah tak lepas dari sang patih Gajahmada dengan sumpah Amukti Palapanya. Secara lengkap bunyinya sebagai berikut.
Sira Gajah Mada patih Amangkubhumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.
Terjemahannya:, Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada: “Jika telah menundukkan seluruh Nusantara dibawah kekuasaan Majapahit, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”.
Filosofi fondamental yang dapat diambil dari sumpah Amukti Palapa adalah bahwa para punggawa ( baca ASN) kerajaan Majapahit bekerja dengan dasar sumpah dan puasa.
Puasa dalam arti menahan diri, manahan nafsu dan mengendalikan nafsu. Tentu saja menjauhi perbuatan atau perilaku yang buruk, jelek dan jahat. Bahasa yang biasa dipakai menjauhi Moh Limo yaitu Moh Madhat, moh Medok, moh Main, moh Minum dan moh Maling.
Tidak Madhat maksudnya tidak mabuk menggunakan benda seperti candu, ganja, sabu-sabu, morfin dll.. ; Tidak Medok artinya tidak zina dan bercumbu dengan perempuan yang bukan istrinya; moh Main itu tidak berjudi karena judi merugikan; moh Minum artnya tidak minum-minuman keras yang membuat mabuk hilang akal yang kemudian membahayakan dan moh Maling tenntunya tidak maling, tidak korupsi, suap, pungli dll.
Itulah yang membuat Majapahit sukses dan berhasil mewujudkan cita-citanya mempersatukan Nusantara. Intinya keberhasilan memperjuangkan itu didasari niat ikhlas tulus mengabdi kepada negara tanpa pamrih, semata mengemban amanah mensejahterakan rakyat, puasa menahan nafsu amarah, nafsu cinta dunia berlebihan kemudian melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme yang ujung-ujungnu merusak dan menjatuhkan nama diri sendiri, keluarga dan pemerintah daerah.
Sejah dahulu kala sudah lama sekali Rasulullah SAW mengingatkan hati-hati dengan kenikmatan harta, tahta dan wanita.
Ada tiga penghancur paling ampuh yang membuat manusia tak berdaya dan membuatnya tersungkur dalam kehinaan baik di dunia , di mata manusia, dan di akhirat, di sisi Allah. Ketiga hal itu adalah harta, tahta dan wanita.
Rasulullah saw senantiasa mengingatkan dan berwasiat kepada umatnya agar senantiasa mawas diri terhadap godaan menggiurkan tiga penghancur sendi sendi iman itu.
Dalam sebuah sabdanya mengenai keharusan kita waspada terhadap pesona dunia dan goda rayu wanita, Rasulullah saw berujar, ”Hati-hatilah kalian dari pesona dunia dan hati-hatilah dari goda rayu wanita. (HR. Ad-Dailami).
Dalam sabdanya yang lain, Rasulullah saw berujar, ”Janganlah seorang lelaki berdua-duaan dengan wanita (bukan mahram) karena sesungguhnya syetan akan menjadi orang ketiga.” (HR. Thabrani).
Rasulullah saw mewasiatkan umatnya tidak kemaruk dunia dan hendaklah berlaku zuhud terhadapnya. Jangan tamak jangan rakus. Sebab kecintaan pada dunia tidak akan ada batasnya.
Manusia tamak dan rakus dunia tidak akan pernah mencapai puncak bahagia karena dia terus memburunya dengan ruhani yang terengah engah.
Rasulullah bersabda, ”Zuhudlah pada dunia, Allah pasti akan mencintaimu dan zuhudlah (tidak berkeinginan) pada apa yang ada di tangan manusia, pasti manusia mencintaimu. (HR. Ibnu Majah).
Semakin banyak manusia yang mencinta dunia, gambaran kiamat semakin dekat. Dan manusia semakin jauh dari Allah. Mereka berlomba membidik dunia namun semakin menjaga jarak dari Allah.
Rasulullah saw bersabda, ”Hari kiamat semakin dekat. Dan tidaklah manusia kecuali semakin tamak pada dunia dan kepada Allah semakin jauh.” (HR. Hakim).
Dunia itu indah dan sedap namun beracun sehingga banyak manusia yang tertipu oleh cita rasanya. Mereka yang tak memiliki filter ruhani yang baik akan semakin terangsang untuk senantiasa menikmatinya.
Hingga akhirnya dia tersedak. Daya tahan ruhaninya menjadi lumpuh dan tumpul. Kepekaan batinnya lemah.
Dinar dan dirham telah membinasakah orang-orang yang datang sebelum kalian, dia juga akan membinasakan kalian.” (HR. Thabrani dan Baihaqi), demikian sabda Sang Nabi.
Kekuasan juga sering kali menjadikan manusia terpuruk. Tatkala kekuasan dan tahta itu dianggap sebagai kesempatan untuk berbangga diri, untuk memperkaya diri, dan untuk dinikmati.
Padahal kekuasan hendaknya diperlakukan sebagai amanah yang tidak ada khianat di dalamnya. Mereka yang dianggap lembek dan lemah untuk memegang amanah ini jangan coba-coba masuk ke dalamnya, sebab dia akan terjungkal dan akan merana.
Rasulullah saw pernah memperingatkan sahabat utama Abu Dzar dengan berkata, ”Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah dan sesungguhnya dia (kekuasaan itu) adalah amanah dan di hari kiamat akan menjadi siksa dan sesal kecuali yang mengambil sesuai haknya dan melaksanakan apa seharusnya dilaksanakan. (HR. Muslim).
Kesungguhan dalam menjalankan kekuasan inilah yang oleh Rasulullah dituntut dari umatnya yang diberi amanah kekuasaan. Sebagaimana sabdanya: ”Tidaklah ada seorang pemimpin yang mengurusi urusan kaum muslimin namun kemudian tidak bersungguh-sungguh dan tidak memberikan nasehat kecuali dia tidak akan masuk surga bersama mereka.” (rakyatnya) (HR. Muslim).
Semoga kita terhindar dari godaan genit tahta, harta dan wanita di sebuah zaman yang mulai menggila.
Bak disambar petir di siang bolong. Warga masyarakat kabupaten Mojokerto dibuat kaget, tercengang dan kecewa super berat. Begitu mendengar dan mengetahui isi surat dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum KPK pada Sidang Perdana Perkara TPPU dan Gratifokasi dengan Tersakwa mantan Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa ( MKP).
MKP didakwa menerima gratifikasi sebesar Rp. 48.000.000.000,00 berasal daril korupsi, jual beli jabatan, upeti dari para Kepala OPdlD, fee proyek, potongan dana operasional OPD, suap jabatan kepala sekolah, camat, sek OPD, kecamatan, kabid dll.
Hampir semua kepala OPD terlibat dan melakukan korupsi, jual beli jabatan, pungutan liar, korupsi, kolusi, nepotisme, bayar upeti. Mulai dari Bambang Wahyuadi, Bambang, Bambang sampai Bambang Sugeng (alm). Makelarnya mulai dari Yiliane sampai Yulasih ditambah Dian serta Dian.
Habis sudah para petinggi Pemerintah Kabupaten Mojokerto, mereka terlibat pada perkara gratifikasi . Yang masih “bersih” tinggal beberapa saja NugrohoNugroho, Rahmat S, Puji W, Zaqi dll.
Mayoritas para Kepala OPD dimaksud di atas telah berdosa ingkar mengkelabuhi rakyat dengan memanfaatkan jabatan yang merupakan amanah dari rakyat. Kepercayaan rakyat kepada pemkab Mojokerto sudah luntur, abu-abu, suram nyaris hilang akibat ulah mereka ASN nakal.
Mereka terjebak kepada godaan tahta dan harta. Harta dan tahta yang mestinya merupakan kenikmatan dan kebahagiaan seperti minum madu, berubah menjadi minum racun karena ulah melanggar dan menyimpang.
Berhentilah sebelum terlambat. Lepas jabatan, buang harta haram. Fokus tobat, minta ampun, perbaiki nama diri dan keluarga. Jangan pikir kehilangan jabatan dan harta yang penting dosa diakpuni dan citra kembali baik menjadi sosok insan kamil.
Kembali menjadi orang yang pinya predikat taqwa dengan taqwa yang sesungguh-sungguhnya. Jangan ikuti syetan, bertobatlah sebelum maut menjemput.
*) Aktivis Senior LSM Mojokerto
















