BOJONEGORO, JURNALDETIK.COM– Semangat dan keterampilan para penyandang disabilitas di Kabupaten Bojonegoro terus berkembang. Sebanyak 13 perajut yang tergabung dalam Kelompok Perajut Penyandang Disabilitas Bojonegoro mengikuti pelatihan peningkatan keterampilan pembuatan tas rajut bermotif Double Crochet atau tusuk panjang.
Pelatihan yang berlangsung selama lima hari, mulai 24–26 Juni dan dilanjutkan pada 29–30 Juni 2026 tersebut digelar untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat, baik untuk kebutuhan ekspor maupun pasar domestik.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) yang dijalankan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas dengan menggandeng Yayasan Sri Sasanti Indonesia (YSSI) sebagai mitra pelaksana.
Pendamping Lapangan YSSI, Laraswati, menjelaskan bahwa motif Double Crochet dipilih karena saat ini menjadi salah satu model yang paling banyak diminati konsumen.
“Permintaan pasar terhadap produk dengan motif ini cukup tinggi. Pelatihan ini diharapkan membuka peluang tambahan penghasilan bagi para perajut disabilitas di luar pekerjaan utama mereka,” ujarnya.
Bagi para peserta, keterampilan merajut bukan sekadar aktivitas produktif, melainkan juga sumber penghidupan. Salah satunya dirasakan Muhammad Alifi atau yang akrab disapa Cak Lipi, warga Kecamatan Ngasem.
Bersama istrinya yang juga penyandang disabilitas, Cak Lipi sebelumnya mengandalkan usaha pembuatan emping garut untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun ketika usaha tersebut mengalami penurunan, kerajinan rajut menjadi alternatif yang mampu menopang ekonomi rumah tangga.
“Saat pekerjaan lain sepi, rajut menjadi penolong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Cak Lipi.
Kini, dengan bantuan sang istri, ia mampu memproduksi dan memasok sekitar 500 keping granny atau komponen utama tas rajut setiap bulan untuk memenuhi pesanan dari offtaker.
Optimisme serupa disampaikan Muhammad Ali, peserta asal Kecamatan Balen. Bersama istrinya, ia mengikuti pelatihan untuk menguasai teknik rajut baru yang dinilai memiliki prospek pasar yang menjanjikan.
“Kalau ada permintaan model tusuk panjang seperti ini, sekarang saya sudah bisa mengerjakannya. Harapannya tentu produksi meningkat dan penghasilan juga bertambah,” ungkap Ali.
Sementara itu, Ketua Kelompok Perempuan Indonesia Merajut (PRIMA) Kabupaten Bojonegoro, Wainem, yang bertindak sebagai instruktur pelatihan, melihat perkembangan kemampuan peserta yang sangat signifikan.
Menurutnya, pada pelatihan sebelumnya banyak peserta yang masih kesulitan menyelesaikan target pekerjaan sesuai waktu yang ditentukan. Namun kini kualitas hasil kerja dan kecepatan produksi mereka mengalami peningkatan yang cukup pesat.
“Perkembangan mereka sangat baik. Saat ini para peserta sudah mampu menyelesaikan pekerjaan sesuai standar yang dibutuhkan pasar,” jelas Wainem.
Ia optimistis para perajut disabilitas tersebut dapat segera dilibatkan dalam pengerjaan berbagai pesanan yang masuk melalui jaringan pemasaran kelompok PRIMA.
Perwakilan EMCL, Marshya C. Ariej, mengatakan bahwa program pemberdayaan ekonomi bagi perempuan dan penyandang disabilitas di sektor kerajinan rajut ini dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat di wilayah operasi perusahaan.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi juga membuka akses ekonomi yang lebih luas melalui peluang pasar yang nyata dan berkelanjutan.
“Program ini hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memanfaatkan peluang pasar produk rajut yang terus berkembang. Harapannya, para peserta dapat semakin mandiri secara ekonomi dan memiliki daya saing yang lebih kuat,” pungkasnya.(Titin Mujiati)














